huft, ada yang mengganjal dalam perjalanan hari ini…
ada yang kurang aja, tapi apa.. kucek semua isi tasku, completed kok.
15.25 aku sudah duduk di gerbong 6 , kursi 21 A , window seat kereta CL PENATARAN CL DHOHO (435).
keretaku akhirnya berangkat, sambil berangkat masih banyak orang yang belum duduk, menaikkan bawaan mereka di bagasi yang ada di atas tempat duduk (oh aku kurang tahu sebutannya apa, jadi kusebut bagasi saja). Dengan kebingungan aku ditemani suara plastik snack orang yang sedang makan, tangisan anak kecil, dan seorang wanita yang sedang meng klaim kursi di depanku.. rupanya orang sebelumnya tidak dapat kursi.
Choo choo, kereta berbunyi, tanda akan segera meninggalkan kesamben. Masih bergumul dengan penyebab kehampaan ini. Karena duduk di window seat aku bisa melihat pemandangan luar dengan jelas. Jarak 100 meter kami melewati tikungan.
oh ada pemandangan tidak asing disana …
pemandangan yang membuka mataku, oh ini rupanya penyebabnya…
aku melihat sebuah mobil berhenti disana, mamaku sedang membuka jendelanya sampai bawah, sepertinya menunggu keretaku lewat. Tangannya melambai, tanganku otomatis melambai juga, apa mama melihatku juga? Aku sudah melewatinya jauh…
Tadi kami berangkat terburu-buru, mobil kami di belakang truk yang berjalan sangat lambat, dari arah berlawanan sangat ramai. Tapi untungnya masih belum terlambat, tapi turun dari mobil aku langsung membuka bagasi dan lari dengan membawa koper dan tas tentengan berisi keripik pisang titipan teman-teman.
Mamaku ikut lari dengan membawa tasku yang lain, kereta sudah sampai, semua orang sudah mulai naik, dan aku adalah yang terakhir boarding tiket.
Aku langsung lari ke ke kereta, rupanya aku tidak sempat hug & kiss mama, pantas ada yang kurang 🙂 . Setiap berpamitan di stasiun itu adalah ritual rutinku, meskipun setiap bulan aku pulang, ritual itu is a must. Setelah melihat mamaku melambai aku sadar, Physical Touch memang love language kami.
