Marani Kakombohi

Filsafat Punya Bakat: Filsafat untuk si awam.

Buku bertema filsafat yang paling cepat kuselesaikan. Filsafat punya bakat yang ditulis Om Henry membuatku meninggalkan banyak anotasi di karyanya. Rasanya beliau seperti seorang penerjemah filsafat ke bentuk yang lebih sederhana dan menyenangkan untuk dibaca.

warna-warni kan wkwkwk.. semakin aku suka sebuah buku semakin warna warni buku itu di tanganku. Aku menemukan banyak kalimat bagus disana. Katanya buku ini adalah catatan kuliah Om Henry yang ditulis saat beliau menempuh pendidikan Pascasarjana di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkarya, Jakarta. Kerennya, beliau membungkusnya dalam bentuk fiksi. Buku ini menghadirkan 12 filsuf dan pemikirannya dalam sebuah reality show. Hypatia sebagai MC dari acara tersebut, dan 11 filsuf lainnya sebagai kontestan. Ada 4 juri yang punya latar belakang berbeda-beda sehingga punya sudut pandang yang berbeda juga dalam menghadapi setiap situasi maupun pemikiran orang lain. Kurasa pemilihan karakter dari ke 4 juri ini cukup mewakili beberapa karakter kita sebagai manusia jika kita yang berdialog langsung dengan para filsuf itu. Ada yang berlatar belakang sebagai orang yang cukup rajin beribadah dan menganggap agamanya adalah satu-satunya sumber yang benar, ada yang berlatar belakang sebagai pengusaha sehingga pemikirannya akan lebih mengarah kepada efisiensi dan profit, ada juga yang rasional dan skeptis, dan tidak ketinggalan ada mahasiswa yang mewakili anak anak muda yang masih kental dengan keidealisannya.

Setiap filsuf disini punya pandangan positif (setidaknya menurutku) yang bisa kusetujui, meskipun ada beberapa pov nya yang tidak sepenuhnya kuiyakan juga. Aku suka sekali dengan analogi bidan dari sesi Socrates.

“…kitalah yang harus ‘melahirkan’ pengetahuan itu, layaknya seorang ibu melahirkan anak, tentu kita tahu, proses melahirkan itu menyakitkan dan tidak nyaman. Maka, wajar jika kita merasakan ‘kesakitan intelektual’ sepanjang malam ini, semua demi kelahiran bayi pengetahuan kita sendiri.”

Kita tidak perlu takut untuk terus mempertanyakan sesuatu, apalagi untuk memperkaya wawasan dari hal yang berada di luar keyakinan kita, mungkin dengan banyaknya informasi kita dapat merasakan kebingungan tapi seperti kata Hypatia dalam reality show ini

“Kebingungan bisa menjadi pertanda awal bahwa kita sedang mencari kebenaran. Justru lebih berbahaya jika kita merasa yakin, tetapi sebenarnya kita keliru.”

Sementara itu sesi Plato yang adalah murid dari Socrates mengenai Demokrasi langsung mengingatkanku pada keadaan Indonesia saat ini. Maaf tapi selama ini aku berpikir Negara Otoriter akan lebih baik dari Negara Demokrasi. Aku tinggal di Indonesia dan tentunya harus menghormati asas demokrasi tersebut, dan aku mengikutinya. Ini hanya pemikiranku yang tidak pernah mulutku panggil untuk keluar dari persembunyiannya. Menurutku akan lebih mudah diatur oleh 1 sudut pandang dan yang lain mengikuti, dari pada berusaha memenuhi keinginan semua orang 🙂 .

“Demokrasi memang tidak sempurna, tapi punya kemampuan untuk mengoreksi dirinya sendiri, terutama jika ternyata pemimpin yang terpilih mulai ngawur….”

Mengingatkanku pada keadaan di negaraku, pemimpin yang terpilih adalah yang punya marketing diri yang bagus, populer, dan pencitraan terbaik. Apalagi dengan keadaan masyarakat yang tidak ideal dan mudah ‘diarahkan’ untuk memilih sesuatu. Tetapi, dengan demokrasi itu sendiri ‘pemimpin’ yang ngawur tadi bisa dirobohkan juga dengan ‘demokrasi’ . Maaf demokrasi.. untuk pemikiranku sebelumnya, sekarang aku sedikit menyukaimu.

Aku juga menyukai 1 kutipan dari Uskup Agung Anselm yang juga adalah Santo dari agama katholik.

Fides quaerens intellectum: iman harus diikuti penalaran.

meskipun contoh yang Beliau pakai untuk ini kurang menurutku, aku tetap setuju dengan ungkapan itu, dan ternyata interupsi dari Gaunilo adalah reaksi yang sama ketika pertama kali aku membaca sesi dari Santo Anselm ini wkwkwk, kurasa aku dan Gaunilo punya pov yang sama soal ini.

Ah tulisan ini akan sangat panjang jika semua sesi filsuf kusebutkan, kamu harus membacanya… ini adalah pengalaman yang seru dan berharga. Ada Socrates, Plato, Aristoteles, Epicurus, Epictetus, Anselm, Gaunilo, Al-Kindi, Ibn Rushd, Machiavelli, Descartes, Spionoza. Oh iya, tak kusangka salah satu filsuf yang kusuka setelah selesai membaca ini adalah Ibn Rushd, seorang filsuf muslim yang lahir di Cordoba, Spanyol dan telah berdedikasi menerjemahkan karya-karya Aristoteles.

“sebuah perbuatan baik haruslah lahir dari motivasi yang baik pula. Segala perbuatan mulia yang tampak di depan mata, tidaklah benar-benar baik jika motivasi di baliknya buruk”

Aku tidak pernah tertarik dengan… maaf.. ‘islam’ , karena penggambaran surga yang menurutku terlalu duniawi (seperti 7 bidadari), aneh jika menahan hawa nafsu seperti itu di dunia jika hanya bertujuan untuk melampiaskannya di surga (kembali lagi ini mungkin terjadi karena pengenalanku yang minim). Tapi filsuf beragama muslim ini bisa menjadi tokoh yang kukagumi. Ini kutipan lain yang kusuka:

“Akal dan Wahyu sesungguhnya adalah saudara sepersusuan. Akal membutuhkan wahyu, karena tidak semuanya bisa dijelaskan dengan nalar dan sains. Tapi aturan agama juga memerlukan hikmah dan nalar, agar kita mampu memahami wahyu”

mungkin ketidaksukaanku selama ini berasal dari minimnya pengetahuan yang menyebabkan interpretasi yang salah. Seperti itulah semua agama, akal dan wahyu sama-sama diperlukan. Belajar filsafat tidak membuatku meragukan iman yang selama ini kupegang, justru semakin memperkuatnya dengan keadaan hati yang lebih mampu menghargai perbedaan.

btw lihat.. aku dulu membelinya PO jadi aku dapat edisi bertanda tangan hehe …

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *