Marani Kakombohi

Boundaries

Lately, I’ve been reading a book about “boundaries”. The title of the book is Set Boundaries, Find Peace by Nedra Glover Tawwab. This book is quite good. I wanna record the new things I get in my online journal.
So .. what is “Boundaries” ? Oke aku akan switch to “bahasa” , ehmm I mean setengah2 lah 😀 . The core is .. yaa sesuai judul boundaries , kalo diartiin ke Indo , batas . Kenapa sih harus ada batas ? Every relationship butuh batas. Batas bisa diartikan sebagai ekspektasi atau kebutuhan yang bisa membantu kita feel safe n comfortable dalam hubungan2 kita dengan orang lain. Setidaknya, itulah sudut pandang penulis buku itu. Aku sendiri mengiyakan apa yang si penulis tulis, In short aku mengartikan boundaries sebagai senjata to prevent people from hurting me ! Kenapa kok senjata ? I’ll describe my pov about it, nanti .
Back to boundaries, kenapa sih harus ada batas dalam setiap hubungan ? Ya karena batas dibutuhkan untuk menjaga setiap hak orang, mencegah orang bertindak sesukanya yang terkadang sebenarnya dia juga tidak sadar, kalau apa yang mereka lakukan atau katakan membuat orang lain tidak nyaman. Itulah kenapa aku menyebutnya senjata, ehm atau lebih ke shield yah, karena tujuannya bukan untuk menyerang orang, tapi menjaga diri sendiri.
Ada 3 level boundaries yang dijelasin di buku itu.
Porous
Batas yang ditunjukkan pada level ini sangat lemah atau poorly expressed n sometimes unintentionally harmful… tapi tetap bisa membuat kita feeling depleted. Kita sering overextending ourselves. Contohnya, kita melakukan atau berkata yes, untuk permintaan2 orang lain yang sebenarnya we don’t wanna do. Aku pernah berada pada level ini, dan sering terjebak disini :” . Beberapa kali aku mengiyakan ajakan teman untuk pergi bersama di akhir pekan. Padahal bagiku weekend itu waktu2 emas untuk “me time”. I’m a such introvert person. . setelah seminggu melalui hari2 bersama people , aku cuma pingin me time. Aku malas keluar, bagiku melelahkan . . tapi aku terlanjur mengiyakan. Jadi aku tetap pergi. Intinya punya batas, tapi masih bisa dilanggar padahal kita tidak merasa nyaman dengan hal itu.
Rigid
Ini the extreme one sih. Ini tuh membuat dinding to keep others out as a way to keep ourselves safe. Tapi sebenarnya, mengunci diri untuk mencari keamanan juga unhealthy n bisa leads to a whole other set of problem kan ? Kalau yang aku tangkap sih, dia benar2 menolak orang atau saying no harshly. Mungkin ini bisa dijadiin contoh: Kita memblokir kontak teman2 yang berniat meminjam uang haha. Padahal kita bisa bilang “no.. aku tidak bisa meminjamimu uang” tapi lebih memilih untuk cut orang2 itu.
Healthy
Sesuai namanya healthy, ya ini adalah batas yang sehat. Untuk merasakannya membutuhkan awareness of our emotional, mental, phycical capacities, combines with clear communication. Contohnya, ketika friends ada yang ajak pergi, tapi kita tidak ingin ikut, cukup menolak tanpa ada regret.
Bukan berarti memiliki boundaries adalah cara berkata tidak kepada orang lain. Salah satunya sih itu, tapi boundaries lebih kompleks dari pada belajar untuk say no to people. Lebih ke arah membuat semua clear dalam suatu komunikasi. Aku akan tulis lagi hal-hal lain soal boundaries pada postingan berikutnya, Bye . Malas edit2 dan kasih gambar, next time aja

1 komentar untuk “Boundaries”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *