Halo guys, kali ini aku mau sharing tentang bagaimana kita harus menyikapi kenyataan yang terkadang tidak sesuai dengan harapan kita. Aku harap dengan tulisan ini kita boleh sama-sama belajar menghadapi segala sesuatu dengan melihatnya melalui kaca mata yang lebih luas dalam proses pendewasaan diri yang kita lalui setiap harinya.
Kalian pernah gak sih melakukan kesalahan atau mengalami kegagalan dan merasa bahwa semua itu akhir dari segalanya? Jadi kenapa sih kita bisa merasakan hal itu? atau apa sih yang membuat kita berpikir begitu? Ada banyak hal yang mempengaruhi cara pandang kita. Disini aku akan membahas 2 poin penyebab kita merasa sangat terpuruk ketika menghadapi keadaan tersebut, yaitu yang pertama adalah mengenai ‘Optimistic Bias’ dan yang kedua adalah ‘Binary Thinking’
Aku mendapat wawasan tentang kedua teori ini dari Youtube ‘Satu Persen’. FYI, Satu Persen – Indonesian Life School adalah start up pendidikan yang mengajarkan tentang pengetahuan dan kemampuan yang mengajarkan tentang pengetahuan dan kemampuan penting dalam hidup yang yang belum diajarkan di sekolah dan masyarakat luas.
1. Optimistic Bias
Apasih optimistic bias itu? Dalam video yang diunggah satu persen, dijelaskan bahwa optimistic bias adalah keadaan dimana kita cenderung melebih-lebihkan kemungkinan baik dan kurang memperhatikan atau bahkan meremehkan kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Dengan begitu bisa dikatakan kalau harapan kita sendiri lah yang malah bikin kita sering kecewa. Terus salah kah kita optimis ? OFC No ! Optimis itu bagus dan dapat membuat kita lebih fokus untuk mencapai apa tujuan kita, dan tentunya membuat kita tidak overthinking yang menyebabkan kecemasan berlebihan.
Tapi guys ! sama seperti cemas berlebih yang gak bagus untuk kita sendiri, demikian halnya dengan optimis ! Segala sesuatu yang berlebihan itu kurang baik dan demikian juga ketika kita menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan bayangan kita, dampak yang kita peroleh juga akan berlebih. Misalnya kita jadi susah untuk segera move on dari suatu kegagalan. Seperti banyak orang mengatakan semakin tinggi kita naik, rasa sakitnya akan lebih terasa ketika kita jatuh.
2. Binary Thinking
Binary Thinking adalah cara berpikir dengan melihat suatu konsep ide dan masalah yang sebenarnya kompleks dibuat sederhana dalam kategori yang lebih sempit. belum paham ? jadi gini, tahu biner kan ? iya ! yang itu angka 1 dan 0 aja hihi, bisa dibilang orang dengan cara pandang ini melihat segala sesuatu seperti hanya melihat 2 warna, yaitu hitam dan putih. ya kalau gak hitam berarti putih !
Jadi maksudnya gimana? ini contohnya :
Kalau kita menabung maka kita akan kaya, dengan kata lain kalau kita tidak menabung kita tidak akan kaya. Kurang lebih cara pandangnya seperti itu. Kalau gak A ya B !
Ini contoh lain yang aku sendiri sebagai seorang fresh graduate juga merasakannya:
Ketika aku gagal dalam suatu wawancara aku berpikir aku sangat gagal dan buruk.
Jadi seperti itulah pemikiran biner, lalu gimana cara atau sudut pandang yang lebih tepat dalam melihat keadaan-keadaan tersebut ? Jawabannya adalah dengan ‘Spectrum Thinking’. Apa itu spectrum thinking? Let’s go to the next chapter !
SPECTRUM THINKING
Kalian tahu spektrum? Yap di kbbi disebutkan bahwa spektrum adalah rentetan warna kontinu yang diperoleh apabila cahaya diuraikan. Nah iya, warna pelangi ! Jadi orang dengan cara berpikir seperti ini gak lagi berpikir sesederhana pemikiran ‘Binary’ tadi, yang hanya melihat adanya warna hitam kalau gak putih tetapi ada berbagai warna lain yang kompleks.
Video yang diunggah Satu Persen sendiri mengutip Bob Johansen yang menjelaskan bahwa ‘Spectrum Thinking’ merupakan kemampuan untuk mencari pola dan kejelasan tanpa mengkategorikan apapun.
Dalam kata lain pemikiran ini menunjukkan bahwa dunia ini kompleks.
Yuk kita balik ke contoh tentang orang menabung dan wawancara di ‘Binary Thinking’ tadi.
Dalam ‘Spectrum Thinking’ belum tentu orang yang tidak menabung merasa bahwa dia tidak akan kaya suatu saat nanti, mungkin dia gak menabung uang yang dimilikinya, tapi dia membelikan ehmm… misalnya kamera, komputer yang memadai, peralatan lainnya supaya dia bisa membuat video yang berkualitas yang bisa dijadikan investasi untuk pekerjaannya (misalkan dia seorang video editor atau bahkan youtuber hihi).
Nah.. begitu juga dengan kasus wawancara tadi. Orang yang ‘Binary Thinking’ akan merasa kalau dia telah gagal dan terpuruk pada situasinya saat itu karena dia mikir kalau dia gak berhasil wawancara berarti dia gagal, berbeda dengan orang yang ‘Spectrum Thinking’ dia bisa memahami bahwa wawancara itu hanya bagian kecil yang lewat dalam hidupnya, dan sebuah wawancara yang gagal tidak berpengaruh besar pada hidupnya yang jauh lebih kompleks dari hal itu. Dia hanya akan mengambil pelajaran dalam setiap wawancara yang pernah dilaluinya dan memperbaikinya pada kesempatan mendatang.
Jadi guys, sekarang aku mau ajak kalian yang masih menganggap dunia ini hanya berwarna hitam dan putih, kalau gak A ya B untuk merubah sudut pandang kalian. Yuk kita belajar menerima setiap kenyataan dan berteman dengan kenyataan tersebut. Meskipun gak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan dia bisa memberi pelajaran bermanfaat untuk kita di masa depan. Bisa dibilang kita ini sebuah pisau yang sedang diasah dengan kenyataan. Semakin sering diasah semakin tajam juga kita.
Oh ya guys, aku banyak belajar dari channel Youtube Satu Persen tentang banyak hal positif yang berpengaruh pada sudut pandangku, ini hanya sedikit dari apa yang mereka share, kalian bisa belajar banyak hal dengan men-subscribenya disini. Kalian juga bisa membaca banyak artikel bermanfaat dari blog mereka pada link berikut: http://bit.ly/3mpLYpq , ada beberapa tes online yang juga bisa kalian akses secara gratis disini: http://bit.ly/2K3iX6a .
Referensi:
Satu Persen – Indonesian Life School
Terimakasih atas informasinya Mbak
Terimakasih atas penjelasan nya
Hyung informasinya bagus hyung
Informasinya sangat bagus hyung
Terimakasih kak infonya 👌🏻
Best😁